Sabtu, 30 Maret 2013

DESAIN PESAN PEMBELAJARAN STRATEGI DESAIN PESAN TAHAP AWAL


DESAIN PESAN PEMBELAJARAN
STRATEGI DESAIN PESAN TAHAP AWAL

1.1 Latar Belakang
Manusia memperoleh sebagaian besar dari kemampuannya melalui belajar. Belajar adalah suatu peristiwa yang terjadi didalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat diamati, diubah dan dikontrol (Robert M. Gagne, 1977). Kemampuan manusia yang dikembangkan melalui belajar yaitu: pertama; ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap.
Pendidik dituntut untuk menyediakan kondisi belajar untuk peserta didik untuk mencapai kemampuan-kemampuan tertentu yang harus dipelajari oleh subyek didik. Dalam hal ini peranan desain pesan dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena desain pesan pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi, atau merencanakan suatu pola atau signal dan lambang yang dapat digunakan untuk menyediakan kondisi untuk belajar.
1.2. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana  strategi menganalisis pebelajar (pretest)?
  2. Bagaimana  menentukan rumusan tujuan pembelajaran?
  3. Apa  strategi dalam menentukan tugas belajar?
  4. Bagaimana  deskripsi materi dan kerangka konseptual desain pesan pembelajaran?
1.3. Tujuan
       Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi desain pesan pembelajaran tahap awal yaitu bagaimana menganalisi pebelajar,merumuskan tujuan,menentukan tugas belajar dan deskripsi materi dan kerangka konseptualnya.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Desain Pesan Pembelajaran
 Desain (merancang) adalah menunjukkan suatu proses analisis yg sengaja dilakukan dan terpisah dari proses pelaksaan desain itu sendiri.  Sebagai suatu proses, desain pesan dilakukan mulai dari analisis masalah hingga pemecahannya dalam pembelajaran, yg dirumuskan dalam bentuk produk.
 Desain juga diartikan sebagai proses untuk menentukan kondisi belajar. Tujuan desain : untuk menciptakan strategi dan produk pembelajaran, baik pada tingkat makro, ex : program / kurikulum, maupun pd tingkat mikro, ex : mata pelajaran, dan media.
Desain pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan / informasi
  • dorongan untuk belajar, kemampuan awal Motivasi; Prinsip kesiapan dan motivasi Jika dalam kegiatan pembelajaran siswa memiliki kesiapan dan motivasi yang tinggi, maka hasil belajar akan lebih baik.
o  Interaksi dengan media, Prinsip Pemusat Perhatian , Jika perhatian siswa terpusat pada pesan / informasi yang dipelajari, maka proses dan hasil belajar akan semakin baik. Prinsip partisipasi aktif siswa, meliputi kegiatan, sikap positif, motivasi, dan lain sebagainya.
  • Prinsip Umpan Balik, Jika dalam proses belajar siswa diberitahukan kemajuan atau kelemahan dalam belajarnya, maka hasil belajarnya akan meningkat. Umpan balik berfungsi untuk memberikan konfirmasi / koreksi terhadap proses dan hasil belajar siswa, agar siswa mengetahui kemajuan belajarnya, sehingga dapat melakukan tindakan selanjutnya dalam belajar.
  • Jika dalam pembelajaran informasi disajikan secara berulang-ulang, maka proses dan hasil belajar akan lebih baik. Tidak adanya perulangan akan berakibat informasi / pesan tidak bertahan lama dalam ingatan.

2.2. Analisis Pebelajar (Pretest)
Pretest
Tes ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua ketrampilan yang akan diajarkan. Tujuannya adalah untuk efisiensi. Jika semua ketrampilan sudah dikuasai maka tidak perlu ada pembelajaran. Namun jika hanya sebagian materi yang sudah dikuasai maka data tes ini memungkinkan desainer untuk lebih efisien. Mungkin hanya review atau pengingat yang dibutuhkan.
Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.
Analisis kemampuan awal pebelajar merupakan kegiatan mengidentifikasi pebelajar dari segi kebutuhan dan karakteristik untuk menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku (tujuan dan materi).
Klasifikasi dilihat dari tingkat penguasaan kemampuan awal
       Kemampuan awal siap pakai/guna
       Kemampuan awal siap ulang
       Kemampuan awal pengenalan
Langkah-langkah
Analisis Kemampuan Awal Pebelajar
       Melakukan pengamatan (observasi) kepada pebelajar secara perorangan
       Tabulasi karateristik perseorangan pebelajar
       Pembuatan daftar strategi karakteristik pebelajar
Fungsi: Kemampuan awal pebelajar dapat befungsi untuk mempermudah dan mengoptimalkan perolehan, pengorganisasian, dan mengungkap kembali pengetahuan baru (hasil belajar) seseorang.
Kemampuan awal yang ingin dilihat disini adalah sejauh mana peserta didik menguasai apersepsi yang akan di lontarkan dengan berupa pertanyaan-pertanyaan pancingan.
Misal :
-          Siapa diantara kalian yang pernah mendengar kata KTP atau melihat KTP ?
-          Apakah kalian tahu tanggal lahir kalian?
Dan jika ternyata ada peserta didik yang menjawab dengan kata “ Saya tahu Bu”, atau “Saya pernah melihat Bu”, maka bisa dimulai dengan beberapa pertanyaan lain yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan jika ada jawaban dari peserta didik yang sedikit meleset, maka Guru tidak dibenarkan mengomentari bahwa jawaban dari peserta didik itu salah, akan tetapi komentarilah bahwa sudah cukup bagus hanya saja adakah yang ingin beri tanggapan yang lain lagi, demikian. Karena ini merupakan pertanda ada respon atau perhatian yang di dapatkan dari peserta didik. Dan ini merupakan kunci awal untuk mengawali suatu KBM, respon atau tanggapan positif besar pengaruhnya dalam mencapai keberhasilan suatu KBM.
Komponen
Uraian
Keadaan Ideal
Siswa (i) harus bisa menyebutkan pengertian dokumen dan macam-macam dokumen dengan baik dan benar.
Keadaan sekarang
Siswa (i) belum bisa menyebutkan pengertian dokumen dan macam-macam dokumen dengan baik dan benar.
Kebutuhan masalah
Siswa (i) perlu mendapatkan penjelasan materi tersebut  secara tepat dan dengan cara yang tepat.
Bagaimana caranya agar siswa (i) dapat memelihara dokumen dengan benar.

Namun sebelum kita membahas analisis pembelajar, baik kita tahu dulu siapa pembelajar dalam desain yang akan dibuat. Pembelajar disini kadang disebut sebagai populasi target atau kelompok sasaran. Mari kita mulai dengan mempertimbangkan bahwa pebelajar mendapatkan seperangkat Instruksional. Kita akan mengacu pada pebelajar ini sebagai target population yaitu mereka adalah orang-orang yang akan dikenai Instruksional secara tepat.
Informasi yang berguna yang akan didapat meliputi (1). Entry behaviour (Perilaku awal), (2). Pengetahuan awal tentang topik tertentu, (3). Sikap terhadap isi dan sistem penyampaian, (4). Motivasi belajar, (5). Tingkat pendidikan dan kemampuan, (6). Pembelajaran yang disukai, (7). Sikap terhadap pengelolana pemberian Instruksional, dan (8). Karakteristik kelompok. Paragraf berikut akan membahas secara lengkap informasi tersebut.
1) Perilaku Masukan.
Perilaku masukan maksudnya anggota populasi sasaran harus telah menguasai keterampilan tertentu sebelum proses Instruksional dimulai. Pada peta konsep perilaku masukan berada di bawah garis entry behaviors.
2) Pengetahuan Sebelumnya Tentang Topik.
Menekankan pentingnya menentukan apa yang peserta didik sudah tahu tentang topik yang akan diajarkan secara parsial. Mereka membangun pengetahuan baru dengan membangun pemahaman mereka sebelumnya, sehingga hal ini sangat penting bagi desainer untuk menentukan jangkauan dan sifat pengetahuan sebelumnya.
3) Sikap Terhadap Isi dan Sistem Penyampaian.
Sikap atau kesan pebelajar terhadap isi materi dan bagaimana akan disajikan akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Harapan populasi tentang cara penyampaian materi akan menimbulkan motivasi.
4) Motivasi Akademik.
Tingkat motivasi pebelajar merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai pembelajaran yang sukses.  Ketika pebelajar mempunyai tingkat motivasi atau interest yang rendah terhadap topik tertentu, pembelajaran hampir tidak terjadi. Keller (1987) mengembangkan sebuah model motivasi ARCS (perhatian, relevansi, kepercayaan dan kepuasan) yang diperlukan dalam kesuksesan belajar tersebut.
5) Pendidikan Dan Tingkat Kemampuan.
Menentukan tingkat prestasi dan kemampuan umum pebelajar. Informasi ini akan membantu mendapatkan gambaran jenis pengalaman pembelajaran yang mereka alami dan mungkin kemampuan mereka dalam mengatasi masalah terhadap pendekatan baru dan berbeda dalam pembelajaran.
6) Pembelajaran yang disukai.
Temukan keterampilan belajar dan kesukaan serta minat pebelajar untuk mendapatkan model pembelajaran yang sesuai. Dengan kata lain, apakah pebelajar menyukai pendekatan ceramah atau diskusi dalam belajar atau apakah mereka mengalami pendekatan belajar yang lain seperti studi kasus, pembelajaran berbasis masalah, kelas seminar atau pembelajaran mandiri melalui web site.
7) Sikap Terhadap Organisasi Pelatihan / Pendidikan
Populasi sasaran yang mempunyai sikap positif dan konstruktif terhadap organisasi yang menyediakan belajar. Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa sikap-sikap yang menunjang terhadap kesuksesan pembelajaran adalah berkaitan dengan keterampilan baru yang dapat diterapkan di tempat kerja.
8) Karakteristik Kelompok.
Analisa pebelajar secara benar akan menghasilkan dua jenis informasi tambahan yang dapat mempengaruhi dalam merancang pembelajaran. Pertama, tingkat keragaman populasi pebelajar. Kedua, interaksi langsung yang terjadi pada populasi pebelajar. Hal ini untuk mendapatkan dan mengembangkan kesan terhadap apa yang mereka ketahui dan bagaimana perasaan mereka.
Semua Variabel pembelajar ini akan digunakan untuk memilih dan mengembangkan tujuan Instruksional, dan mereka akan sangat mempengaruhi berbagai komponen dari siasat Instruksional. Mereka akan membantu para desainer mengembangkan strategi motivasi untuk Instruksional dan akan menyarankan berbagai jenis contoh yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan poin, cara-cara di mana belajar dapat (atau tidak) akan disajikan, dan cara untuk membuat praktek keterampilan yang relevan bagi pembelajar

3.2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
            Seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran, saat ini telah terjadi pergeseran dalam perumusan tujuan pembelajaran. W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) mengemukakan pada masa lampau guru diharuskan menuliskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk bahan yang akan dibahas dalam pelajaran, dengan menguraikan topik-topik atau konsep-konsep yang akan dibahas selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran pada masa lalu ini tampak lebih mengutamakan pada pentingnya penguasaan bahan bagi siswa dan pada umumnya yang dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered). Namun seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran, tujuan pembelajaran yang semula lebih memusatkan pada penguasaan bahan, selanjutnya bergeser menjadi penguasaan kemampuan siswa atau biasa dikenal dengan sebutan penguasaan kompetensi atau performansi.
Dalam praktik pendidikan, pergeseran tujuan pembelajaran ini terasa lebih mengemuka sejalan dengan munculnya gagasan penerapan Kurikulum. Kendati demikian, di lapangan kegiatan merumuskan tujuan pembelajaran seringkali dikacaukan dengan perumusan indikator pencapaian kompetensi. Sri Wardani (2008) bahwa tujuan pembelajaran merupakan target pencapaian kolektif, karena rumusan tujuan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh desain kegiatan dan strategi pembelajaran yang disusun untuk siswanya. Sementara rumusan indikator pencapaian kompetensi tidak terpengaruh oleh desain ataupun strategi kegiatan pembelajaran yang disusun, karena rumusannya lebih bergantung kepada karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai siswa. Di samping terdapat perbedaan, keduanya memiliki titik persamaan yaitu memiliki fungsi sebagai acuan arah proses dan hasil pembelajaran.
3.2.1 Pengertian Tujuan Pembelajaran
      Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan pengajar itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan dan diapresiasi. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. pengajar sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa, dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna, dan dapat terukur.
      Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Di dalamnya terkandung tujuan yang menjadi target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan pengalaman-pengalaman belajar. Contoh rumusan tujuan umum (goals) :
  • Siswa hendak mengaplikasikan laporan keuangan.
  • Siswa hendak mengidentifikasikan ciri-ciri pasar monopoli.
           Kalau kita perhatikan, tujuan-tujuan tersebut memang berguna untuk merancang keseluruhan tujuan program pembelajaran, tetapi kurang spesifik dalam upaya pelaksanaan urutan pembelajaran, karena tujuan yang dibutuhkan adalah yang jelas dan dapat diukur.
      Untuk merumuskan tujuan pembelajaran kita harus mengambil suatu rumusan tujuan dan menentukan tingkah laku siswa yang spesifik yang mengacu ke tujuan tersebut. Tingkah laku yang spesifik harus dapat diamati oleh guru yang ditunjukkan oleh siswa, misalnya menghitung laporan keuangan secara periodik, menjelaskan hukum permintaan.

3.2.2 Manfaat dari Tujuan Pembelajaran
      Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi pengajar maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:
1)        memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada  siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara  lebih mandiri;
2)        memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
3)        membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;
4)        memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Sementara itu, Fitriana Elitawati (2002) menginformasikan hasil studi tentang manfaat tujuan dalam proses belajar mengajar bahwa perlakuan yang berupa pemberian informasi secara jelas mengenai tujuan pembelajaran khusus kepada siswa pada awal kegiatan proses belajar-mengajar, ternyata dapat meningkatkan efektifitas belajar siswa.
Memperhatikan penjelasan di atas, tampak bahwa tujuan pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran, yang di dalamnya dapat menentukan mutu dan tingkat efektivitas pembelajaran.
3.2.3. Kriteria Tujuan Pembelajaran
      Terlepas dari kekacauan penafsiran yang terjadi di lapangan, yang pasti bahwa untuk merumuskan tujuan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa kaidah atau kriteria tertentu. Suatu tujuan pembelajaran hendaknya  memenuhi kriteria sebagai berikut :
  • Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar, misalnya: dalam situasi  bermain   peran dalam kegiatan pasar modal.
  • Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
  • Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki, misalnya pada pembuatan kurva Philips, siswa dapat menjelaskan tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran.
    W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) menegaskan bahwa seorang pengajar profesional harus merumuskan tujuan pembelajsarannya dalam bentuk perilaku siswa yang dapat diukur yaitu menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh siswa tersebut sesudah mengikuti pelajaran. Selanjutnya, dia menyarankan dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih tujuan pembelajaran, yaitu: (1) preferensi nilai pengajar yaitu cara pandang dan keyakinan  mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara membelajarkannya; dan (2) analisis taksonomi perilaku; dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, guru akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif, ataukah psikomotor.
3.3. Penentuan Tugas/Bahan Belajar
3.3.1 Menentukan cakupan bahan ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus diperhatikan apakah jenis materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik. Selain itu, perlu diperhatikan pula prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa. Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan (adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
3.3.2. Menentukan urutan bahan ajar
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum dipelajari. Siswa akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan belum dipelajari. Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok , yaitu: pendekatan prosedural, dan hierarkis. Pendekatan prosedural yaitu urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah menelpon, langkah-langkah mengoperasikan peralatan kamera video. Sedangkan pendekatan hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.

3.4. Deskripsi materi dan Kerangka Konseptual (advance organizer)
Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar, siswa dapat dilibatkan untuk mencarinya. Berbagai sumber dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber dimaksud dapat disebutkan di bawah ini:
a)    Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas,
b)   Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual atau mutakhir,
c)     Jurnal penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji kebenarannya,
d)   Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar yang dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb.,
e)    Profesional yaitu orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan,
f)    Buku kurikulum penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi,
g)   Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulananyang banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu matapelajaran,
h)   Internet yang yang banyak ditemui segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita peroleh melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi,
i)     Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi, dan
j)     Lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi). Perlu diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran, buku-buku atau terbitan tersebut hanya merupakan bahan rujukan. Artinya, tidaklah tepat jika hanya menggantungkan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber bahan ajar. Tidak tepat pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap pergantian semester atau pergantian tahun. Buku-buku pelajaran atau buku teks yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai sumber yang relevan dengan materi yang telah dipilih untuk diajarkan. Mengajar bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu siswa mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru menggunakan banyak sumber materi. Bagi guru, sumber utama untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku penunjang yang lain.
Kerangka Konseptual Pembelajaran
 Berikut  ini contoh  kerangka konseptual pembelajaran yang dimaksudkan untuk dapat dijadikan kerangka berpikir dalam pelaksanaan program pengembangan pembelajaran.
kerangka pembelajaran
Gambar 1 Kerangka Konseptual Pembelajaran
Sederhananya, Pembelajaran terdiri atas tiga bagian utama: 1. Partisipan Pembelajaran, 2. Sumber Belajar, dan 3. Aktivitsa /Proses Pembelajaran. Ketiga bagian ini sebaiknya disinergikan: partisipan diberikan peran sesuai dengan tugas dan fungsinya terhadap layanan sumber belajar dan aktivitas pembelajaran; Sumber belajar disiapkan dan dibuat sesuai dengan kebutuhan pengguna dan mendukung aktivitas pembelajaran; Aktivitas pembelajaran difasilitasi untuk mendukung interaksi partisipan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan didukung dengan sumber belajar yang memadai.
Sedangkan Proses Pembelajaran dapat dilihat dalam tiga tahapan, yaitu:  1. Persiapan, 2. Pelaksanaan, dan 3. Evaluasi. Ketiga tahapan ini merupakan siklus yang hendaknya kita laksanakan dari semester ke semester berikutnya pada tiap mata pelajaran yang kita ampu, sehingga dari semester ke semester pembelajaran semakin baik.
Untuk itu, diperlukan tolok ukur baik tidaknya pembelajaran dalam proses evaluasi. Sebagai contoh, evaluasi Efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan membandingkan hasil yang diperoleh (capaian) terhadap hasil yang diinginkan (tujuan). Sedangkan efisiensi pembelajaran dapat diukur melalui efisiensi biaya, sumber daya, ruang dan waktu dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Berikut ini kutipan istilah-istilah dan pengertiannya yang membangun konsep pembelajaran:
Pendekatan
Pendekatan (approach) merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches)
Model
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992 ). 
Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”
Strategi
Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.
Teknik
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang harus dilakukan agar metode ceramah berjalan efektif dan efisien.
Taktik
Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya lebih individual, walaupun dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama, sudah pasti mereka akan melakukannya secara berbeda, misalnya dalam taktik menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa agar materi yang disampaikan mudah dipahami.
 diagram_venn
Gambar 2 Diagran Venn Istilah-istilah dalam Konsep Pembelajaran











BAB IV

4.1.   Kesimpulan
Desain pesan pembelajaran merupakan tahapan yang penting untuk dilakukan oleh guru, pada tahapan awal mendesain pesan dimulai dengan menganalisa pebelajar(pretest), merumuskan tujuan, menentukan tugas /bahan ajar dan mendeskripsikan materi dan kerangka konseptual, hal ini agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif. Dengan mendesain materi belajar terlebih dahulu, akan memudahkan pengajar dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Pesan desain merupakan kesimpulan akhir dari pengolahan data pangsa pasar dan konsep desain. Kesimpulan ini mencerminkan tema utama yang menyeluruh dan mewakili desain yang disampaikan agar dapat diterima atau merupakan titik pandang utama sebuah desain bagi khalayak yang dituju
4.2.   Saran
Agar penyampaian pesan tersebut efektif, perlu diperhatikan beberapa prinsip desain pesan pembelajaran. Prinsip yang dimaksud antara lain:
1.      Kesiapan dan Motivasi (readuness and motivation)
2.      Penggunaan Alat Pemusat Perhatian (attention directing devices)
3.      Partisipasi Aktif siswa (student’s active participation)
4.      Pengulangan (repetition)
5.      Umpan Balik (feedback)


Daftar Pustaka
Barbara B. Seels dan Rita C. Richey, Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya, Jakarta: Universitas Negeri Jakarta,1994
Dick, W. And Carey, L. 1985 the systematic design of intruction. Glecview, Ilionis: Scot,
Foresman and Company
Hamzah B. Uno.2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kemp,J.E.Morrison dan S.M.Ross (1994), Designing Effective Instructional, New York.Macmillan College Publishing Company
Nana Syaodih Sukmadinata. 2002. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Omar Hamalik.2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Bumi Aksara
Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses
W. James Popham dan Eva L. Baker.2005. Teknik Mengajar Secara Sistematis (Terj. Amirul Hadi, dkk). Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar