Jumat, 18 Januari 2013

model pembelajaran pengendalian diri


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Kontrol/pengendalian diri bisa diterjemahkan sebagai pakem yang akan menjadi rem terhadap perilaku tertentu. Kaitannya dalam pembelajaran, model ini bisa menjadi salah satu cara membentuk perilaku peserta didik terhadap kompetensi dasar tertentu. Tapi tanpa adanya kontrol diri,  maka siswa bisa saja terkesan tidak serius dan main-main. Hal ini disebabkan tidak semua siswa mampu membentuk perilaku baru secara serta merta.
Diperlukan adanya suatu model atau pendekatan yang dapat membentuk perilaku yang baik karena menurut beberapa ahli, perilaku bisa didapat melalui belajar.

1.2   RUMUSAN MASALAH
1.    Apa yang dimaksud dengan kontrol/pengendalian diri?
2.    Apa yang dimaksud dengan pendekatan belajar kontrol/pengendalian diri (control self learning)?
3.    Bagaimana penerapan model belajar kontrol/pengendalian diri (control self learning)?
4.    Apa tujuan dan asumsi belajar kontrol/pengendalian diri?
5.    Bagaimana sintax dalam model belajar kontrol/pengendalian diri?

1.3  TUJUAN
  1. Untuk mengetahui maksud dari kontrol/pengendalian diri dan kaitannya dengan pembelajaran.
  2. Untuk mengetahui penerapan model belajar kontrol/pengendalian diri (control self learning).
  3. Mengetahui tujuan dan asumsi model belajar kontrol/pengendalian diri (control self learning).
  4. Mengetahui sintagmatik model pembelajaran kontrol/pengendalian diri(control self learning).


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Kontrol Diri
Hurlock (1990) mengatakan kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya. Kemudian Kazdin (1994) menambahkan bahwa kontrol diri diperlukan guna membantu individu dalam mengatasi kemampuannya yang terbatas dan membantu mengatasi berbagai hal merugikan yang dimungkinkan berasal dari luar. Menurut Chaplin (2001) kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri dalam artian kemampuan seseorang untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku impulsif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kontrol diri merupakan upaya dari dalam diri seseorang untuk membentuk tingkah laku positif dan mengurangi tingkah laku yang negatif.
Kontrol diri ini dapat diterapkan pada sebuah model pembelajaran yang dinamakan dengan model kontrol diri. Tujuannya adalah agar pendidikan bukan hanya menciptakan pengetahuan saja, tapi juga mampu membentuk perilaku positif dari sebuah pembelajaran melalui pengkontrolan diri pada perilaku yang negatif.

2.2 Pendekatan Belajar Kontrol/pengendalian Diri (learning self control)
Skinner, bapak teori pengolahan perilaku dalam konsepnya tentang operant conditioning, telah memberikan sumbangan yang besar dan luas dalam pendekatan ini. Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berperilaku di berbagai kelompok sosial.
Pendekatan belajar control/pengawasan diri bertolak dari keyakinan bahwa perilaku peserta didik merupakan hasil belajar (learned). Karena itu peserta didik harus diberi kemudahan untuk belajar bagaimana bertanggung jawab secara moral atas lingkungan personal dan sosial memahami dirinya secara utuh.
Pendekatan ini digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan menghindarkan peserta didik dari keengganan untuk melibatkan diri dalam kesempatan belajar yang tersedia secara umum. Peserta didik yang suka mengganggu temannya, dapat belajar secara lebih produktif untuk berhubungan dengan temannya. Kemudian peserta didik yang memiliki rasa takut terhadap mata pelajaran tertentu, dapat belajar bagaimana menghilangkan rasa takut itu dengan membangun perasaan yang tegar (affirmatif).

2.3 Model Kontrol/pengendalian Diri
2.3.1 Tujuan dan Asumsi
Para Teoretis perilaku melihat perilaku sebagai fungsi dari lingkungan langsung yang secara khusus memberikan rangsangan dan penguatan. Ciri yang paling esensial ialah hubungan antara respon dan stimulus yang diberi penguatan.  Penguatan hanya diberikan apabila telah ada respon. Kondisi ini disebut “contingent” atau tergantung pada pengelolaan ketergantungan pada atau “contingency management” yang  menjadi ini dari model Kontrol Diri, merupakan usaha yang sistematis untuk memberikan rangsangan yang bersifat menguatkan yang diberikan pada saat-saat tertentu setelah munculnya respon. Orang yang membangun hubungan kontingensi antara stimulus dan respon ini harus menyadari akan adanya respon yang memang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Disamping itu juga harus disadari bahwa stimulus yang bersifat menggali respon sangatlah penting.
Pengelolaan proses kontingensi ini bertolak dari prinsip “operant conditioning”. Dalam prinsip ini terlibat peranan “reinforcer” yaitu sesuatu yang dapat mempertinggi respon. Respon yang diharapkan dapat diberikan penguatan yang bersifat positif maupun negatif. Penguatan positif ialah tanggapan yang diberikan yang bersifat menambah sesuatu pada suasana, seperti dengan tersenyum, atau mengacungkan ibu jari. Peguatan dianggap negatif bila yang diberikan itu mengurangi suasana yang ada yang melahirkan respon. Penguatan dapat bersifat material, sosial, dan aktivitas.
Tujuan utama dari program pengelolaan kontingensi ialah dapat ditransfernya suatu perilaku kedalam situasi yang lain. Termasuk dalam tujuan ini adalah keawetan atau “durability” dari perilaku. Perilaku baru yang diadaptasikan selanjutnya akan menjadi bagian intrinsik dibawah kontrol diri dan pemantauan perseorangan. Pengelolaan kontingensi ini dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang salah kaprah atau “maladaptive behavior” dan model perilaku yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan yang baru. Model ini terutama, sangat tepat digunakan untuk mengembangkan perilaku baru seperti: keterampilan akademis, keterampilan sosial, dan keterampilan mengelola diri. Selain itu dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengubah respon yang bersifat emosional, seperti rasa takut atau rasa cemas.

2.3.2 Sintaks
Model ini memiliki lima tahap (Joyce dan Weil,1986:347) seperti berikut :
Tahap pertamaPerumusan performansi akhir
  1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan perilaku yang menjadi sasaran,
  2. Merumuskan secara khusus perilaku akhir
  3. Mengembangkan rencana untuk mengulur dan mencatat perilaku.

Tahap keduaMengkaji perilaku
Mengamati, dan mencatat kekerapan perilaku dan jika perlu, hakikat dan konteks dari perilaku itu.

Tahap ketigaMerumuskan Kontingensi
1.      Membuat keputusan mengenai lingkungan
2.      Memilih sarana penguat atau “reinforcers” dan pola pemberian penguatan,
3.      Menuntaskan perencanaan bentuk perilaku akhir.
Tahap keempatMelembagakan Program
1.      Menata lingkungan,
2.      Memberikan pengantar bagi para pelajar
3.      Memelihara penguatan dan melaksanakan jadwal atau pola penguatan

Tahap kelimaMengevaluasi Program
1.      Mengukur respon yang diharapkan,
2.      Membangun kembali kondisi yang lama, mengukur dan mengembalikan para program kontingensi.

2.3.3Sistem Sosial
Sistem sosial yag perlu dibangun untuk perilaku yang khusus lebih bersifat sangat terstruktur. Guru berfungsi sebagai pengendali sistem penguatan dan lingkungan. Aspek sosial dari model ini lebih bersifat kesepakatan, dalam arti sambil berjalan dapat ditumbuhkan. Demikian juga dalam pola dan dan jadwal pemberian penguatan, guru dapat melakukan kesepakatan dengan para pelajar.

2.3.4 Prinsip Pegelolaan/Reaksi
Prinsip pengelolaan/reaksi guru terhadap para pelajar didasarkan pada prinsip “operant conditioning dan pengelolaan kontingensi. Secara umum, perilaku yang tidak tepat kadang-kadang diabaikan. Sedangkan perilaku yang diinginkan seyogianya dikuatkan.

2.3.5 Sistem Pendukung
Sarana yang diperlukan untuk melaksanakan model ini bervariasi dari situasi kesituasi. Program yang bersifat sederhana mungkin tidak memerlukan sarana pendukung. Sedang program yang bersifat kompleks, memerlukan perencanaan dan alat yang lebih memadai. Guru yang mengembangkan program ini perlu melakukan perencanaan yang cermat,teliti  dan sabar.
Model lain yang berkenaan dengan pengelolaan perilaku ini ialah Model “self-control”. Prinsip-prinsip “operant conditioning” yang dipakai dalam “contingency model” juga digunakan dalam model ini, terutama mengenai pengendalian stimulus dan penguatan yang bersifat positif. Perbedaannya, dalam model ini peranan utama lebih banyak pada partisipan. Kunci utama dalam model ini ialah dalam pengendalian rangsangan yang berbentuk mengubah lingkungan. hal ini dapat dilakukan secara fisik seperti dengan mematikan televisi yang sedang ditonton. Dalam membangkitkan rangsangan, dapat digunakan respon yang paling berbeda atau bertentangan dengan pemikiran. Proses pembentukan perilaku sama-sama berlaku dalam model kontrol diri ini.

Sintaks
Model ini memiliki empat tahap seperti berikut (Joyce dan Weil,1986:363)
Tahap pertamaMemperkenalkan prinsip berlaku
1.      Mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan
2.      Menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan diri
3.      Membangun kemauan untuk berpartisipasi

Tahap keduaMembangun Landasan Berpijak
1.      Merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus
2.      Menetapkan langkah dan jadwal pengukuran
3.      Melakukan pengukuran, mencatat kendali rangsangan, memberikan penguatan, dan memberikan respon yang menantang.
Tahap ketigaMenyusun Program kontrol diri
1.      Menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan, dan penguat yang akan dipakai.
2.      Merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang
3.      Membuat program tertulis, dan
4.      Melakukan kesepakatan melalui pertemuan yang dijadwalkan.

Tahap keempatMemantau dan memperbaiki Program
1.      Melibatkan para pelajar dalam program.
2.      Melakukan pertemuan periodik dengan guru pelatih untuk mereview kemajuan yang dicapai dan memperbaiki program, jika memang diperlukan.

Sistem Sosial
Model ini memiliki struktur yang moderat sampai pada struktur yang rendah. Walaupun guru memiliki peranan dalam mengambil inisiatif, pada akhirnya para pelajar yang melakukan pengendalian dan pemeliharaan berjalannya kegiatan-kegiatan. Dari kegiatan-kegiatan itu, mungkin sebagian melakukan secara mandiri, sebagian lagi secara bersama. Yang harus dicatat, ialah bahwa dalam model ini program yang dilaksanakan merupakan hasil kesepakatan guru dan para pelajar.

Prinsip Pengelolaan/Reaksi
Guru dalam model ini memilki peranan peting yang menentukan dalam keseluruhan program. Secara rinci, dapat dikemukakan bahwa guru seyogianya:
1.      Memberi semangat kepada para pelajar
2.      Menyadari kelemahan dari lingkungan yang dijadikan rangsangan.
3.      Menjamin tersusunya rencana yang realistik,
4.       Membantu para pelajar dalam menerapkan prinsip perilaku tertentu
BAB III
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kontrol/pengendalian diri merupakan upaya dari dalam diri seseorang untuk membentuk tingkah laku positif dan mengurangi tingkah laku yang negatif. Learning self control digunakan sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat merubah atau memperbaiki perilaku pebelajar.


DAFTAR RUJUKAN

Chaplin,J.P.2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Dahlan, M. D. 1990. Model-Model Mengajar. Bandung: CV. Diponegoro.
Joyce, Bruce, Weil Marsha, and Emily Calhoun. 2009. Model’s of Teaching (Model-model Pengajaran). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran tersedia pada
Sakdiahwati. 2008. Penerapan Metode belajar dalam  Kreativitas Menulis. Tersedia pada http://www.puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_ peserta/73_Sakdiahwati.pdf. diakses (14/01/2013).
Winataputra, Udin S., 2005, Model-Model Pembelajaran Inovatif, Jakarta, PAU-PPAI-UT
Skinner,B.F, 1969,Contingencies of Reinforcement,USA, appelton century pub














Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Nama Sekolah                   :     SMA N 7 TANJABTIM
Mata Pelajaran                 :     Bahasa Inggris
Kelas/Semester                :     X / 1
Alokasi Waktu                   :     2 x 45 menit ( 1x pertemuan )
Topik Pembelajaran         :     Responding to initial greetings
Pertemuan Ke                   :     1

A.      Standar Kompetensi
         Mendengarkan
         1.               Memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari.        
         Berbicara
3.               Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan seharihari.

B.      Kompetensi Dasar
1.1              Merespon makna yang terdapat dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berkenalan, bertemu/berpisah, menyetujui ajakan/tawaran/ undangan, menerima janji, dan membatal-kan janji
3.1              Mengung-kapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal ( bersosiali-sasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan mengguna-kan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berkenalan, bertemu/ berpisah, menyetujui ajakan/ tawaran/ undangan, menerima janji, dan membatalkan janji

C.      Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator Pencapaian Kompetensi
Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
Merespon dengan benar terhadap tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah .
Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, mandiri
Melakukan berbagai tindak tutur dalam wacana lisan interpersonal / transaksional: berkenalan, bertemu dan berpisah.

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
§  Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
§  Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
§  Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
§  Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
D.      Tujuan Pembelajaran
      Pada akhir pembelajaran siswa dapat :
·           Merespon dengan benar terhadap tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah .
·           Melakukan berbagai tindak tutur dalam wacana lisan interpersonal / transaksional: berkenalan, bertemu dan berpisah.

E.      Materi Pokok
Responding to initial greetings
-       Very well, thank you and how are you.
-       I’m good/okay/alright
-       Very well. Thank you
-       Oh, pretty good
-       Not too bad, thanks
-       Fine, thanks.
-       excellent
F.      Metode Pembelajaran/Teknik:
Total Physical Response

G.      Strategi Pembelajaran
Tatap Muka
Terstruktur
Mandiri
§  bertanya jawab tentang tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Membahas unsur dan langkah retorika dalam pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Membahas ciri-ciri leksikogramatika.
§  Membacakan cerita kepada kelompok atau kelas (monolog).
§  Menceritakan kembali cerita kepada kelompok atau kelas (monolog).
§  Membahas kesulitan yang dihadapi siswa dalam melakukan kegiatan terstruktur dan mandiri.
§  Dengan kelompok belajarnya, siswa diberi tugas untuk melakukan hal-hal berikut, dan melaporkan setiap kegiatan kepada guru, a.l. tentang tempat, siapa saja yang datang, kesulitan yang dihadapi.
§  tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah dengan kelompok belajarnya
§  Membahas unsur dan langkah retorika dalam teks naratif.
§  Membahas ciri-ciri leksikogramatika.
§  Membacakan cerita kepada kelompok (monolog).
§  Menceritakan kembali cerita kepada kelompok (monolog).

§  Siswa melakukan berbagai kegiatan terkait dengan wacana berbentuk naratif di luar tugas tatap muka dan terstruktur yang diberikan guru.
§  Siswa mengumpulkan setiap hasil kerja dalam portofolio, dan melaporkan hal-hal yang sudah diperoleh serta kesulitan yang dihadapi secara rutin kepada guru.



Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
§  Kegiatan Awal  (10’)
-      Mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (nilai yang ditanamkan: santun, peduli)
-      Mengecek kehadiran siswa (nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)
-      Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter
-      Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak dikembangkan selain yang terkait dengan SK/KD
-      Siswa berdiskusi mengenai pertanyaan yang tertera di buku teks

§  Kegiatan Inti (70’)
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi guru:
§  Memberikan stimulus berupa pemberian materi pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Mendiskusikan materi bersama siswa  (Buku : Bahan Ajar Bahasa Inggris mengenai pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Memberikan kesempatan pada peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan mengenai pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Siswa diminta membahas contoh soal dalam Buku : Bahan Ajar Bahasa Inggris mengenai pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi guru:
§  Membiasakan siswa membuat kalimat pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas mengerjakan latihan soal yang ada pada buku ajar Bahasa Inggris untuk dikerjakan secara individual.
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi  guru:
§  Memberikan umpan balik pada siswa dengan memberi penguatan dalam bentuk lisan pada siswa yang telah dapat menyelesaikan tugasnya.
§  Memberi konfirmasi pada hasil pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh siswa melalui sumber buku lain.
§  Memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang sudah dilakukan.
§  Memberikan motivasi kepada siswa yang kurang dan belum bisa mengikuti dalam materi mengenai pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.

§  Kegiatan Akhir (10’)
§  Siswa diminta membuat rangkuman dari materi mengenai pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Siswa dan Guru melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
§  Siswa diberikan pekerjaan rumah (PR) berkaitan dengan materi mengenai pertanyaan teks tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah.
§  Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
H.      Sumber/Bahan/Alat
§  Buku Look Ahead 1  , English for Better Life
§  Buku Inter-Language Kelas X
§  Kaset/CD
§  Tape
§  Script dari Look Ahead 1 dan Inter-Language

I.       Penilaian

 

I. Indikator, Teknik, Bentuk, dan Contoh.



No.

Indikator
Teknik
Bentuk
Contoh
1.




2.





Merespon dengan benar terhadap tindak tutur: berkenalan, bertemu dan berpisah .

Melakukan berbagai tindak tutur dalam wacana lisan interpersonal / transaksional: berkenalan, bertemu dan berpisah.
Performance Assessment (responding)



Tes Lisan






Melengkapi dialog




Membuat dialog





Read and give a response to the following expressions.


To end the conversation, what would you say to someone.

 


II. Instrumen  Penilaian

Read and give a response to the following expressions.
1.    How are you doing ?
2.    Hello,
3.    see you tomorrow
4.    goodbye
5.    see you about seven, then.
6.    good night
7.    see you later
8.    how do you do ?
9.    see you soon.

III.  Pedoman Penilaian    
No
Aspect of Scoring
Scoring
Low (45-59)
Average (60-75)
Good (76-100)
1
Pronunciation



2
Intonation



3
Stress



4
Gestures




Total




Total Score




Mengetahui,
Kepala Sekolah,



              Irwandi S.Pd



  Mendahara 18 , Januari 2013
Guru Mapel Bahasa Inggris,



          DEDI ASRIZAL S.Pd














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar